JAKARTA, KOMPAS.com - Dalam beberapa tahun terakhir, terjadi tren peningkatan angka penyakit alergi khususnya pada anak. Tahun 2006 terdapat 24,6 persen anak yang menderita eksim, jumlah itu meningkat dari tahun 1990 yang hanya kurang dari 10 persen.
Eksim atau dermatitis atopik merupakan bentuk alergi yang paling sering diderita anak. Pencetusnya antara lain faktor alergi makanan, misalnya susu sapi atau telur.
"Belakangan ini banyak bayi yang diberi susu formula, sehingga alergi pada anak meningkat," kata dr.Zakiudin Munasir Sp.A, Konsultan Alergi-Imunologi Anak dari RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta.
Penelitian di Amerika menunjukkan 20 persen anak pernah mengalami alergi makanan. "Pada bayi, sistem pencernaannya belum sempurna sehingga rentan alergi," kata Zaki dalam acara media edukasi mengenai Alergi dan Imunitas di Jakarta (6/7).
Untuk Indonesia 5 besar makanan pencetus alergi pada anak adalah kelompok crustae (kepiting, udang), kacang, makanan laut, telur, serta susu sapi. "Sangat penting mengetahui jenis makanan pencetus alergi dan menghindarinya," katanya.
Oleh karena itu, bayi sebaiknya tidak diberikan makanan padat terlalu dini. "Berikan ASI sampai 6 bulan dan ibu menyusui harus mengindari makanan tertentu jika punya alergi," urainya.
Pada usia dini, tanda-tanda alergi biasanya adalah infeksi kulit seperti ruam merah dan gangguan saluran cerna seperti muntah dan diare. Dengan bertambahnya usia, reaksi alergi utama adalah pada sistem pernapasan, seperti asma.
AYAH DAN IBU
15 tahun yang lalu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar